Sumber: Antara, 08 September 2008
Palangka Raya
Pendidikan tentang konservasi orangutan (Pongo pygmaeus) perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pelajaran sekolah di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai upaya melestarikan satwa langka tersebut. "Program pendidikan konservasi orangutan dapat dimasukkan dalam kurikulum sekolah, misalnya dalam mata pelajaran muatan lokal," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, Mega Harianto, pekan lalu, di Palangka Raya.
Sebelumnya, Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng pernah menetapkan materi tambahan berupa pelajaran tertib lalu lintas, antikorupsi, dan antinarkoba, meski dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Menurut Mega, upaya memasukkan konservasi orangutan ke dalam kurikulum didasari besarnya populasi orangutan di Kalteng yang mencakup 70 persen dari populasi orangutan se-Kalimantan.
Karena itu, katanya, pendidikan konservasi orangutan menjadi salah satu bentuk sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya menjaga habitat satwa yang terancam punah itu. Pengenalan anak sekolah terhadap orangutan dan habitatnya, dinilai cukup efektif untuk menumbuhkan pemahaman tentang perlindungan populasi orangutan.
Perburuan
Pendidikan serupa diharapkan juga dapat dilakukan kepada masyarakat lokal yang masih mengonsumsi daging orangutan, karena perburuan orangutan sebagai bahan makanan telah mengancam kepunahan satwa itu. Konservasi orangutan, lanjutnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi yang bekerja pada bidang konservasi alam, melainkan juga melibatkan semua pihak serta institusi terkait.
Kalangan aktivis lingkungan sebelumnya menyoroti mulai menghilangnya sejumlah satwa langka yang merupakan spesies endemis Kalteng dalam beberapa tahun terakhir akibat minimnya program konservasi satwa dari pemerintah. [Ant/M-15]
09 September 2008
Konservasi Orangutan Perlu Dipelajari di Sekolah
08 September 2008
Awasi Perdagangan Satwa Langka
Sumber: Pontianak Post, 06 September 2008
Sambas
Pemerintah melalui instansi terkait diminta untuk mengawasi kegiatan perdagangan satwa secara illegal. “Terlebih satwa langka yang dilindungi, pemerintah tidak boleh kecolongan,” tegas Ketua Yayasan Pesisir Mul’am Husairi, kepada Pontianak Post kemarin, di Sambas.
Diantara satwa yang dibawa keluar yaitu penyu, kura-kura, ular, dan lainnya. Pernyataan tersebut disampaikan, jelas Mul’am, terkait adanya pengaduan warga bahwa di Sambas berlangsung aktivitas penjualan satwa langka. Modusnya adalah dengan membawanya bersama ikan yang akan dijual ke luar negeri. “Informasinya satwa tersebut ditimbun sehingga tak kelihatan,” ungkapnya.
Menurut Ketua Yayasan Pesisir aparat tidak boleh memberikan toleransi terhadap permasalahan penjualan satwa ini. Karena hal tersebut dapat mengancam kelestariannya. Terlebih lagi, katanya, kategori kelangkaan satwa itu bukan hanya di tingkat nasional, melainkan dunia.
Jika lamban disikapi dengan serius, tandas Mul’am, tak mustahil imbasnya sangat tidak baik bagi bangsa ini. Indonesia bisa menjadi bulan-bulanan masyarakat internasional karena dianggap tidak mampu menjaga satwa yang habitatnya ada di wilayahnya. “Jadi sekali lagi Saya pikir, ini persoalan serius yang tidak bisa dibiarkan,” ujarnya.
Begitupun pelakunya nanti apabila ketahuan, imbuh Ketua Yayasan Pesisir, wajib untuk diberikan sanksi tegas. Aparat terkait, apapun dalih dan kepentingannya, tegas Mul’am, jangan pernah sedikitpun memberikan toleransi. Sebab persoalannya sudah bukan lagi berskala lokal, melainkan perhatian internasional.
Penegasan senada disampaikan Heri Muslimin, dari Forum Pencinta Lingkungan. Ia berharap perhatian terhadap masalah alam sekitar, termasuklah biota yang ada di dalamnya dilakukan dengan lebih intens oleh pemerintah. “Kadang masalah lingkungan Kita mengganggapnya sebagai hal biasa. Padahal imbasnya adalah beberapa tahun kedepan,” ujarnya.(mur)
06 September 2008
Komodo dragon disappearing from natural habitat
Source: The Independent - September 4, 2008
By Kathy Marks, Asia-Pacific Correspondent
The legendary Komodo dragon, a giant carnivorous lizard that feasts on water buffalo, and occasionally even attacks humans, is disappearing from its limited habitat, according to zoologists.
The dragons, which grown to 10ft long and weigh as much as 26 stone, are found only on Komodo and a handful of neighbouring islands in central Indonesia. Already endangered, their numbers are dwindling as a result of habitat destruction and hunting of their prey.
A recent expedition by Indonesian and American zoologists found that the formidable creatures, a protected species, have vanished from one of the smaller islands, Padar. On two other small islands, Nusa Kode and Gili Motang, the populations have dropped to 75 and 115 respectively.
Jeri Imansyah, a member of the team, told Indonesia's Tempo magazine: “The theoretical threshold in determining that a species is on the way to extinction is the presence of less than 100 individuals in its population.”
Komodos, the world's biggest monitor lizards, have a ferocious reputation. Heavily-built, with a powerful tail, massive claws and razor-sharp teeth, they periodically attack local people. However, the only fatal incident in more than three decades occurred last year, when an eight-year-boy was mauled and later died of his wounds.
In June a group of divers including three Britons spent two days fighting off dragons after they were stranded on Rinca island. The reptiles retreated only when they were pelted with rocks.
The dragons' favourite prey is goats, wild boar, buffalo, and above all deer. One bite can be fatal, as their saliva contains dozens of species of poisonous bacteria - a result of them feeding on rotting animal carcasses. They often kill their prey by wounding it first, then waiting for septicaemia to set in.
On Padar island, deer and boar have been wiped out by hunters, according to Ramang Isaka, head of management at the Komodo National Park. He told Tempo that as recently as 2000, dragons were abundant on the island. But none remain. “Total extinction,” Mr Isaka said. “There's no komodo excrements found any more on Padar.”
Tree-felling is another reason that dragons are in decline, experts believe. They need forests to shelter from the sun, and young dragons climb trees to escape from cannibalistic adults. While taking refuge in the branches, they survive by eating insects, birds' eggs, geckos and small lizards. “The species spends about 80 per cent of its time in the forests,” said Mr Jeri.
Gili Motang and Nusa Kode lie within the national park, but are isolated and rarely visited by rangers. Mr Jeri said he had seen fishermen chopping down trees there in order to build a fire and cook their catch.
The larger islands, Komodo and Rinca, are each still home to more than 600 dragons, which are a major tourist attraction. But on Flores, which lies outside the national park, they have disappeared from the east coast, which once had a healthy population, and have declined in other areas. Recent surveys suggest that total dragon numbers may be fewer than 3,000.
There are Komodo dragons in captivity around the world, including at London Zoo, where they were introduced as part of a conservation breeding programme. Highly unusually, females are able to reproduce without their eggs being fertilised by sperm. Zoologists from London and San Diego have played a leading role in studying and monitoring the creatures in the wild.
On Nusa Kode and Gili Motang, the giant lizards have adapted to their environment. With few large mammals present, they eat rodents and geckos. Generally, they grow to a smaller size than average.
The Zoological Society of London has urged Indonesia to ban deer hunting and slash-and-burn farming, in order to arrest the dragons' decline, according to Tempo. It also wants them to be monitored more closely on the smaller islands.
03 September 2008
Residents refuse to leave 'tiger area'
Source: The Jakarta Post - September 1, 2008
By Oyos Saroso H.N.,
Bandarlampung
A month after the release of two Sumatran tigers (Tigris panthera sumatrae) from Aceh into the wild at Bukit Barisan Selatan National Park, Lampung, the indigenous Belimbing clan have protested a plan to relocate them.
Belimbing traditional leader A. Zulqornain Syarif Gelar Sutan Panji Negara said the move was tantamount to wiping his clan off the map, and that they would not back down until the customary issue was completely resolved.
"Should they relocate us, where would we go? The planned site is Sumber Rejo village, an illegal logging area that is not authorized by the state.
"Our only problem concerns the rights of the indigenous people. Under the State Constitution, traditional communities are clearly protected. We certainly refuse to lose our identity," said Zulqornain, who is also a civil servant at West Lampung regency administration.
Belimbing customary figures had already discussed a plan to vacate Pangekahan to make way for a wildlife conservation area for five tigers from Aceh, Zulqornain said.
The meeting decided on three conditions; the Belimbing clan would retain rights to traditional land encompassing Pangekahan, Wayharu and Bandardalam hamlets; this land and its contents must be returned to the Belimbing clan in the event authorities relocate residents from Pangekahan (native or newcomers); land which has been sold must be returned to the Belimbing clan's customary caretaker.
"As customary land owners, we refuse to be relocated whether or not compensation is offered," Zulqornain said.
Pangekahan hamlet chief Khusairi Raja Muda said neither West Lampung regency administration nor the company managing the tiger conservation area, PT Adhiniaga Kreasindo (owned by businessman Tommy Winata), had ever met to discuss the proposal with the clan thus far. Instead, he said, the clan had received a letter from Regent Mukhlis Basri ordering them to vacate the village so as to accommodate five Sumatran tigers from Aceh.
Khusairi vowed to defend the area even if force was used, adding that 50 percent of the 164 families, or around 500 people, were members of the Belimbing clan while the rest were of Javanese, Bugis, Sundanese, Balinese and Batak ethnic origins.
"We strongly uphold our traditions. We won't leave Pangekahan, and refuse to accept the offer of 1.5 hectares of farmland and Rp 7.5 million (approximately US$833.00) in cash per family," he said. Since the planned release of the five tigers (with two released thus far), Khusairi said Bengkunat Belimbing district chief M. Nizom had pushed Pangekahan villagers to move promptly.
Equipped with a letter from the West Lampung regent, Nizom told villagers each family would be compensated with, among other things, 1.5 hectares of farmland, Rp 5 million in cash, a four-by-six metre house and living expenses for six months.
"Many villagers agreed to move. But more recently the regency administration changed the offer to only the 1.5 ha plot and Rp 7 million per family," Khusairi said. Nizom intimidated villagers into signing statements saying they agreed to move, he added.
"The district chief said villagers would regret it if they didn't move. They finally gave in. But the problem remains that they don't know where to go."
Pangekahan villager Hidayaturahman said residents were constantly worried for their safety since the two tigers were released in the area.
"The tigers are more tame than other tigers in this area. They often venture into the village and sleep in front of the school. So far they have devoured 12 goats and 10 chickens," he said.
Two of the five tigers caught in Aceh were released June 22 at Tambling Conservation area in Bukit Barisan Selatan National Park. At that time, Tommy had assured the villagers that the tigers would not prey on them, saying there was adequate food in surrounding forests.
West Lampung Regent Mukhlis Basri said he was still waiting for a decision from the Forestry Ministry on a relocation site for the 164 families in Pangekahan.
"We are also waiting for funds from the third party to relocate the villagers," Mukhlis said.
Melacak Jejak Macan Dahan di Kalimantan
Sumber: Antara, 01 September 2008
Oleh Kasriadi
Palangkaraya
Siang hari seperti biasa, Suta pergi ke hutan di sekitar tempat tinggalnya di Desa Butong Kecamatan Teweh Tengah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah melihat perangkap (jerat) yang dipasang untuk menangkap babi.
Berburu babi dengan jebakan merupakan pekerjaan rutinnya selain sebagai petani karet, namun saat melihat alat perangkap tradisional yang disebut warga setempat jipah itu bukannya hewan babi yang terkena perangkap melainkan seekor binatang yang kulitnya bercorak awan (bulat-bulat) berwarna abu-abu dengan panjang tubuh satu meter.
"Saat saya melepas dari jerat perangkap, binatang itu tanpa meronta padahal taringnya cukup panjang sekitar 10 cm," kata Suta lelaki berusia 40 tahun itu yang tinggal di RT 5 Desa Butong.
Binatang itu kemudian dibawanya ke desanya berjarak tiga kilometer menggunakan tas terbuat dari rotan yang ditaruh dipunggung (lanjung) biasa dijadikan alat untuk mengangkut hasil kebun warga setempat. Tertangkapnya binatang liar yang ternyata macan dahan (neofelis diardi) itu langsung membuat gempar masyarakat di sekitar tempat tinggalnya yang tidak jauh dari SDN-1 Butong. Macan dahan hidup dari pohon ke pohon di dalam hutan lebat.
Semula binatang itu akan diserahkan kepada Pemkab Barito Utara untuk dipelihara, namun tiga hari setelah ditangkap, macan itu telah melarikan diri dengan cara merusak papan kayu yang dijadikan kurungan dan diletakkan di bawah rumah. Padahal, Suta tengah mempersiapkan sangkar yang dibuat dari besi namun binatang itu hilang tanpa diketahui keberadaannya lagi.
Sementara itu, Alwis Gandrung, seorang warga Muara Teweh, mengatakan bahwa kepercayaan masyarakat setempat tertangkapnya hewan langka berjenis kelamin jantan yang disebut satua panjang buntut atau binatang panjang ekor oleh warga suku Dayak setempat sebagai tanda kenaasan atau sial baik bagi penemu maupun binatang tersebut.
Menurut dia, binatang ini sulit ditemukan sehingga bagi orang yang bisa mendapatkannya berarti binatang tersebut mengalami sial atau disebut warga setempat dengan nama kepuhunan. Bahkan, orang Dayak mempercayai binatang itu merupakan hewan jadi-jadian atau mahluk halus dan baru kali ini macan dahan bisa ditangkap, kata Alwis.
Sesuai kepercayaan suku Dayak, macan dahan yang berhasil ditangkap warga berarti binatang itu mengalami sial. Sedangkan, orang yang sedang berada dalam hutan dan melihat binatang tersebut, namun macan dahan keburu lari maka warga tersebut yang kena naas atau musibah seperti terjangkit penyakit.
Secara terpisah, Yusuf Trismanto, Kepala Kantor Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah IV Muara Teweh mengatakan populasi salah satu binatang buas ini sudah mulai terancam karena hutan yang selama ini menjadi habitatnya sudah banyak tergusur dijadikan kawasan perkebunan, kegiatan perusahaan HPH maupun pertambangan.
Mungkin karena kelaparan tidak menemukan binatang lain yang biasa menjadi santapan, macan dahan pun yang selalu hidup di atas pohon itu harus turun ke tanah guna mencari makanan.
Yusuf Trismanto mengatakan, kalau memang binatang itu terancam habitatnya bukan berarti akibat perburuan atau dibunuh, karena selama ini macan dahan sulit ditemukan dan keberadaannya tidak terlacak.
"Kalau binatang itu terancam punah, tidak disebabkan perburuan karena selama ini tidak pernah terdengar orang menemukan binatang tersebut lalu membunuhnya," jelas Yusuf.
Menurut dia, populasi macan dahan di Kabupaten Barito Utara saat ada di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Antang Ganda Utama terutama di wilayah kebun kemitraan di Desa Rarawa Kecamatan Gunung Timang.
Di wilayah itu, warga sering melihat macan dahan, bahkan masyarakat takut pergi ke hutan seorang diri, karena binatang itu tubuhnya cukup besar, bahkan binatang itu kelaparan dengan memakan ternak babi warga setempat. Selain itu, macan dahan pernah terlacak di kawasan perkebunan sawit PT Berjaya Agro Kalimantan dan kawasan Cagar Alam Pararawen wilayah Desa Lemo Kecamatan Teweh Tengah.
Yusuf Trismanto menyatakan, secara ekologi keberadaan macan dahan di daerah ini memang ada, namun sekarang sulit ditemukan. "Hewan ini sangat langka karena kita biasanya hanya menemukan jejak atau laporan petugas dan warga masyarakat yang pernah melihatnya," katanya.
Namun, Yusuf sangat terkejut dengan ditangkapnya macan dahan oleh warga Desa Butong yang selama ini lebih banyak mendengar kisahnya baik melalui petugas di lapangan maupun masyarakat ketimbang melihat sendiri. "Setelah saya melihat foto yang diambil melalui kamera ponsel oleh warga setempat ternyata memang besar dan hal ini memang kejadian langka apalagi sampai bisa ditangkap," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng, Mega Haryanto, menyatakan pihaknya masih berupaya menelusuri populasi macan dahan yang diperkirakan semakin jarang ditemukan.
Di Kalteng macan dahan masih bisa ditemukan seperti di Taman Nasional Sebangau, Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur. Selain itu di daerah lain juga diketahui memiliki habitat macan dahan dalam jumlah kecil seperti di Cagar Alam Sapat Hawung, Pararawen, Suaka Margasatwa Lamandau, Hutan Lindung Bukit Bantikap, dan Blok E kawasan Pengembangan Lahan Gambut.
"Secara pasti belum diketahui habitat dan jumlahnya. Kami masih melakukan penelusuran jejak, karena macan dahan termasuk hewan langka," ujarnya.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng memasang kamera di lokasi lembaga penelitian di dalam hutan Taman Nasional Sebangau, Kalteng dan belum lama ini merekam foto seekor macan dahan.
Foto serupa di habitat aslinya, juga sempat beberapa kali terekam, termasuk kemunculan macan dahan di daerah hutan dan jembatan kanal air yang biasa dilintasi manusia di wilayah itu.
"Populasinya dari dulu tidak diketahui, meski keberadaannya sering terlihat di sejumlah daerah konservasi di Kalteng," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng, Mega Haryanto. Macan dahan termasuk dari ratusan jenis hewan langka yang dilindungi UU No 55/1995 tentang Konservasi dan Sumber Daya Hayati. Dalam Undang-Undang tersebut Pasal 40 mengatur jelas semua orang dilarang menangkap dan memiliki hewan-hewan langka.
Satwa khas Kalimantan itu sebelumnya disebut dengan nama spesies Neofelis nebulosa, namun sejak tahun lalu diubah menjadi Neofelis diardi karena hasil tes DNA menunjukkan, macan dahan asal Indonesia itu memiliki banyak perbedaan sifat genetik dengan macan dahan sejenis yang tersebar di Benua Asia.
Mengacu data World Wildlife Fund (WWF), macan dahan yang baru diklasifikasikan sebagai spesies baru itu diperkirakan tersisa antara 5.000 hingga 11.000 ribu di Kalimantan dan antara 3.000 hingga 7.000 di Sumatera. Hewan langka itu memiliki corak seperti awan yang kecil, corak bergaris ganda di punggung, dan warna rambut berwarna abu-abu yang lebih gelap daripada spesies sejenisnya.
Neofelis diardi merupakan predator utama di hutan Kalimantan, dengan makanan monyet, rusa, burung, dan kadal. Ukuran gigi taring terhadap tubuhnya tergolong paling panjang di antara kucing lainnya. Harapan hidupnya kini hanya tersisa di kawasan Heart of Borneo, hutan tropis di bagian tengah Borneo seluas 220 ribu kilometer persegi yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam sebagai kawasan konservasi. (*)
02 September 2008
Kondisi Kera di WWP Malang Memprihatinkan
Sumber: Antara, 01 September 2008
Malang
Kondisi kera di objek wisata Wendit Water Park (WWP) yang berlokasi di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, semakin lama semakin memprihatinkan. Ketua Karang Taruna Mandiri Mangliawan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, Iwan Yulianto, Sabtu (30/8), mengatakan, populasi kera di kawasan WWP itu sebelumnya sekitar 600 ekor. Kini, tinggal 300 ekor karena banyak yang mati akibat kekurangan makan.
"Padahal, keberadaan kera tersebut merupakan ikon taman wisata Wendit," katanya di sela-sela aksi sosial komunitas Jurnalis Kanjuruhan (KJ) yang memberi makan ratusan kera di Wendit. Ia mengakui, sejak taman wisata Wendit dibangun menjadi kawasan wisata lebih representatif dengan berbagai fasilitas mewah, termasuk salon kecantikan, cottage, dan tempat spa, kera-kera itu kondisinya menjadi lebih baik dan gemuk karena banyak pengunjung yang memberi makanan.
Sementara itu, Ketua Jurnalis Kanjuruhan, Cahyono mengatakan, aksi sosial memberikan makan pada ratusan kera itu merupakan wujud dari keprihatinan para wartawan yang bertugas di Kabupaten Malang terhadap kondisi kera di kawasan WWP. Bagaimanapun juga, kata dia, kera yang bergelantungan di pohon-pohon yang ada di kawasan WWP merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun, dia menyayangkan, populasinya semakin berkurang.
"Kami berupaya melestarikan populasi kera tersebut agar tetap bisa dijadikan ikon WWP meski ada pembangunan dan renovasi di sana-sini," katanya menambahkan.
Anggaran pemberian makanan untuk ratusan kera di WWP yang dikelola Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Malang itu rata-rata mencapai Rp500 ribu per hari untuk sekitar 300 kera tersebut. (*)
21 Juni 2008
Borneo Clouded leopards recognised as a distinct species
(Taken From: Indonesian Nature Conservation newsLetter 11-24a || June, 16th 2008)
Sumber: Wildlife Extra
March 2007
Scientists have discovered that the clouded leopard found on the islands of Borneo and Sumatra is an entirely different species from the mainland clouded leopard. The secretive rainforest animal was originally thought to be the same species as the one found in mainland South-east Asia. Researchers at the US National Cancer Institute say the differences between the Borneo and mainland clouded leopard were found to be comparable to the differences between other large cat species such as lion, tiger, leopard, jaguar and snow leopard. They believe the Borneo population likely diverged from the mainland population some 1.4 million years ago.
‘Genetic research results clearly indicate that the clouded leopards of Borneo should be considered a separate species,’ said Dr Stephen O'Brien, Head of the Laboratory of Genomic Diversity, US National Cancer Institute. ‘DNA tests highlighted around 40 differences between the two species.’
The results of the genetic study are supported by separate research on geographical variation in the clouded leopard, based mainly on fur patterns and coloration of skins held in museums and collections.
‘The moment we started comparing the skins of the mainland clouded leopard and the leopard found on Borneo, it was clear we were comparing two different species,’ said Dr Andrew Kitchener, from the Department of Natural Sciences, National Museums Scotland. ‘It’s incredible that no one has ever noticed these differences.’ The Borneo clouded leopard has small cloud markings, many distinct spots within the cloud markings, greyer fur, and a double dorsal stripe. It is altogether darker than the mainland species. Clouded leopards from the mainland have large clouds on their skin with fewer, often faint, spots within the cloud markings, and they are lighter in colour, with a tendency toward tawny-coloured fur and a partial double dorsal stripe.
‘Who said a leopard can never change its spots? For over a hundred years we have been looking at this animal and never realized it was unique,’ said Stuart Chapman, WWF International Coordinator of the Heart of Borneo programme. ‘The fact that Borneo’s top predator is now considered a separate species further emphasises the importance of conserving the Heart of Borneo.’
Clouded leopards are the biggest predators on Borneo, sometimes as large as small panthers, and noted for having the longest canine teeth relative to body size of any cat. By taking into consideration the forest conditions in Borneo, a total number of 5,000 to 11,000 Bornean clouded leopards are estimated to live there. The total number in Sumatra could be in the range of 3,000 to 7,000 individuals. However, further studies are needed to obtain better population data. Destruction of their habitat is the main threat they face. The last great forest home of the Bornean Clouded Leopard is the Heart of Borneo, a 220,000km2 wild, mountainous region – about five times the size of Switzerland – covered with equatorial rainforest in the centre of the island.
The news comes just a few weeks after a WWF report showed that scientists had identified at least 52 new species of animals and plants over the past year on Borneo. The global conservation organization says these repeated findings show how crucial it is to conserve the habitat and species of the world’s third-largest island.
Last month in Bali (Indonesia), the ministers of the three Bornean governments – Brunei Darussalam, Indonesia and Malaysia – signed an historic Declaration to conserve and sustainably manage the Heart of Borneo. This has put the area on the global stage of conservation priorities.
20 Juni 2008
Perdagangan Satwa Liar di Sumut Makin Marak
Sumber: Detik.com, 19 Juni 2008
Jakarta
Perdagangan satwa liar yang dilindungi tampaknya tidak bisa distop. Di Sumatera Utara fenomena itu bahkan makin marak. Tahun 2007 lalu saja, sedikitnya 10 ribu ekor satwa liar diperdagangkan secara bebas di daerah itu.
Investigasi yang dilakukan Pro Fauna Indonesia (PFI) bersama International Fund For Animal Welfare (IFAW) mencatat, satwa liar itu dijual di pasar lokal hingga ke luar negeri.
Campaign Officer PFI Asep R. Purnama mengatakan, maraknya perdagangan satwa liar tidak terlepas dari keterlibatan oknum BKSDA Departemen Kehutanan Provinsi Sumut. Mereka sering memalsukan surat ijin angkut satwa.
"Oknum BKSDA biasanya mengeluarkan surat pengantar yang menyebutkan satwa yang akan diangkut bukan satwa liar di dalam surat izin angkut tumbuhan dan satwa liar," kata Asep di Hotel Garuda Plaza, Medan, Kamis (18/6/2008).
Menurut Asep, hasil investigasi juga menyebutkan pusat perdagangan satwa liar di Medan berada di kawasan Jl Bintang. Pasar ini menjual berbagai jenis satwa antara lain elang, kakaktua, kukang, owa, dan beruang madu. Harganya pun bervariasi, mulai Rp 100 ribu hingga Rp 1,5 juta per ekor.
Asep mengatakan, pasar Bintang juga berperan sebagai penyuplai untuk Pasar Burung Pramuka di Jakarta. Setiap 2 minggu sekali, pedagang bisa mengirim sedikitnya 300 ekor satwa ke Jakarta via bandara Polonia Medan.
Sedangkan untuk luar negeri, perdagangan satwa liar merambah ke Singapura dan Malaysia. Pengiriman dilakukan dengan cara diselundupkan melalui bandara Polonia, Pelabuhan Belawan, Tanjung Balai Asahan, Batam dan Kuala Tungkal, dan Jambi.
Khusus di bandara Polonia, pelaku menempatkan barang dagangannya di bercampur dengan satwa lain yang tidak dilindungi. Agar tidak mencurigakan, operasi pengiriman biasanya dilakukan pada malam hari.
Staf khusus Menhut Irwansyah mengatakan, pihaknya akan menindak tegas oknum yang terlibat dalam penyeludupan satwa liar. Selain itu dia juga akan memeriksa Pasar Burung di kawasan Jl Bintang Medan. ( rul / irw )
Oleh: Khairul Ikhwan
Populasi Badak Jawa Di TNUK Diperkirakan Tinggal 55 Ekor
Sumber: Antara, 19 Juni 2008
Serang
Populasi Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, Banten diperkirakan tinggal mencapai 55 sampai 60 ekor, selain suli berkembang biak, badak tersebut juga rawan terhadap perburuan.
"Jumlahnya memang mengalami penambahan sejak 1980, namun sulit perkembang biakannya kerena terbatasnya makanan dan masih perlu habitat baru," Kata Humas TNUK Enjat Sudrajat di Serang, Kamis.
Menurutnya, kurangnya tanaman sebagai bahan makanan badak tersebut, disebabkan faktor alam atau kekeringan. Kekeringan itu biasanya terjadi bulan Juli hingga Oktober setiap tahunnya,s ehingga menylitkan badak mencari makanan.
Sehingga, kata Enjat, luas habitat badak yang ada sekarang ini sekitar 38.000 ha masih perlu penambahan ke wilayah Gunung Honje luasnya menjadi sekitar 68.000 ha. Karena, kalau kekurangan makanan badak bisa kurus, sakit dan akhirnya mati.
Aktivitas badak jawa mencari makan lebih sering pada malam hari, sumber air menjadi faktor yang sangat penting karena 1 sampai 2 kali sehari badak-badak tersebut beristirahat selama menempuh perjalanan penjelajahannya dalam satu hari sekitar 20 km.
Selain badak, kata Enjat, di areal TNUK seluas 79.000 ha tersebut, masih ada sekitar 600 ekor populasi macan, 8000 ekor banteng, 7000 ekor kera serta burung-burung dan hewan lainnya.
Perkembang biakan badak tersebut sangat lambat. Lama hamil diperkirakan 16 bulan dan lama menyusui atau mengasuh anak satu sampai dua tahun dan jarak kelahiran empat hingga sembilan tahun sekali, dengan jumlah anak yang dilahirkan satu ekor. (*)
16 Juni 2008
Pusat Penyelamatan Satwa di Malang Bangkrut
Sumber: Kompas, 15 Juni 2008
Malang,
Pusat penyelamatan satwa (PPS) Petungsewu di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, kini tengah mengalami krisis finansial dan akan tutup beberapa bulan ke depan. Akibatnya, satu persatu satwa yang pernah dipelihara mulai dititipkan ke sejumlah lembaga konservasi seperti taman safari dan taman rekreasi. Krisis finansial itu terjadi karena tahun 2008 ini PPS Petungsewu tidak lagi mendapat jatah anggaran dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, sebagai kepanjangan tangan pemerintah RI.
"Tahun ini katanya ada kebijakan pengetatan anggaran di seluruh departemen. Termasuk juga di Departemen Kehutanan. Itu sebabnya sementara tidak ada anggaran untuk PPS sampai waktu yang tidak ditentukan," tutur Project Manager PPS Petungsewu, Iwan Kurniawan, Minggu (15/6) di Malang.
Selain itu, PPS Petungsewu juga semakin sulit mendapatkan donasi dari sejumlah donatur. Apalagi, sudah sejak dua tahun lalu, pemilik aset PPS Petungsewu yaitu Gibbon Foundation (GF) telah menyatakan diri bangkrut.
"Kondisi krisis finansial ini sebenarnya mulai terlihat sejak awal tahun 2008. Namun dengan segala upaya, kami coba bertahan hingga sekarang. Kini seiring kepastian tidak adanya dana lagi dari BKSDA, maka kami mulai melakukan percepatan pelepasan satwa ataupun translokasi satwa," ujar Iwan. Sejumlah satwa yang sudah di lepas antara lain merak, owa-owa, kakaktua, dan sebagainya.
Sedangkan bagi satwa yang belum bisa dilepas, oleh PPS Petungsewu ditranslokasi (dipindahkan) ke sejumlah lembaga -lembaga konservasi yang dirujuk BKSDA. Mereka antara lain Taman Safari Indonesia (TSI) II di Prigen Pasuruan (33 satwa), Taman Rekreasi Kota Malang (13 satwa), Maharani Zoo Lamongan (13 satwa), dan Taman Rekreasi Sengkaling Malang (10 satwa).
Satwa yang sudah ditranslokasi antara lain Nuri, Kakaktua, Buaya Irian, Siamang, Owa-owa, Buaya Muara, Paruh Bengkok, Burung Bayang, dan Kasuari.
Adapun sejumlah satwa yang tidak mungkin dilepas ke alam serta yang tidak bisa ditranslokasi, misalnya karena cacat atau karena sulit mendapatkan habit atnya, hingga kini masih berada di PPS Petungsewu.
Setelah pelepasan dan translokasi satwa, saat ini yang tersisa di PPS Petungsewu adalah 13 paruh bengkok, 4 ekor owa-owa, tiga ekor beruk, tiga ekor kakaktua, dan empat ekor kasuari.
Krisis finansial itu juga menyebabkan PPS Petungsewu mengurangi personil atau tenaga operasional di sana. Dari 13 orang personil petugas yang ada sejak berdiri tahun 2007, kini hanya tersisa dua orang yaitu project manager dan seorang animal keeper .
PPS Petungsewu didirikan oleh Gibbon Foundation bekerjasama dengan pemerintah dalam hal ini Direktorat Perlindungan Hutan dan Kelestarian Alam (PHKA) Departemen Kehutanan RI pada tahun 2007. Saat awal berdiri, ada sekitar 132 satwa yang dirawat di sana.
Pembiayaan PPS Petungsewu kala itu adalah dari bantuan BKSDA (sekitar 45%), Yayasan Gibbon Indonesia (kepanjangan tangan GF), dan donatur salah satunya sebuah non government organization (NGO) yang bergerak di bisang perlindungan satwa yaitu Profauna. Awal beroperasi, PPS Petungsewu ini mengantongi dana sekitar Rp 35 juta.
Dahulu, kerjasama antara GF dengan PHKA bisa melahirkan enam buah PPS yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Namun akibat kesulitan finansial, satu persatu PPS tersebut mulai tutup. Menurut Iwan, saat ini tersisa dua PPS yaitu PPS Petungsewu (Malang) dan PPS di Bali. "Kondisinya sama. Kedua PPS ini sedang dalam proses tutup," ujar Iwan.
02 Juni 2008
Harus Izin Presiden
Sumber: Pontianak Post, 12 Desember 2007
Jakarta,
Keinginan pemerintah Qatar untuk mengambil komodo dan orangutan dari Indonesia tidak mudah dipenuhi. Untuk mengirim satwa langka ke luar negeri, harus ada izin dari presiden. Itu pun untuk kepentingan penyelamatan, tidak bisa semata-mata untuk kepentingan persahabatan kedua negara.
Duta orangutan Indonesia Angelina Sondakh mengingatkan untuk memberikan hibah kepada negara lain tidak boleh sembarangan. "Harus jelas kepentingannya. Kalau sekadar untuk hubungan baik kedua negara, kasih bonekanya saja," kata Angelina Sondakh kemarin (11/12).
Menurut Angie-sapaan Angelina Sondakh, para prinsipnya orangutan harus tinggal di hutan. Kalau memang Indonesia akan memberikan ke Qatar, kata Angie, harus untuk kepentingan penelitian atau pertukaran kebun binatang.
Indonesia pernah meminjamkan orangutan ke Australia untuk penelitian. Setelah proyek penelitian selesai, orangutan itu dikembalikan lagi ke hutan di Jambi. "Saat itu ketat sekali perjanjiannya. Bahkan kita bawa baby sitter dari Indonesia. Kebun binatang di Australia saat itu dirancang seperti hutan dan dilengkapi hitter,"kata Angie.
Pemerintah, kata Angie, harus membicarakan dulu dengan LSM-LSM orangutan yang ada di Indonesia. Meski presiden punya otoritas, tetap harus meminta pertimbangan para pecinta orangutan. "Harus dipastikan dulu kondisi kebun binatang di Qatar," tandas puteri Indonesia 2001 itu.
Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) juga menyoroti rencana pemerintah Qatar untuk mengambil dua hewan langka Indonesia tersebut. Pimpinan PPS Gadog, Bogor, Erwin Wilianto mengatakan ada enam species yang memerlukan izin presiden sebelum dikirim ke luar negeri. Yakni Orangutan, Harimau Sumatera, Komodo, Burung Cendrawasih, Badak, dan Gajah.
"Tidak bisa hanya izin dari wakil presiden kemudian ditindaklanjuti oleh menteri kehutanan," kata Erwin saat dihubungi kemarin (11/12).
Selain itu, kalangan pecinta satwa juga menolak jika sistem pertukaran komodo dan orangutan adalah jual beli. Dalam Undang-undang nomor 5 tahun 1990, kata Erwin, perdagangan satwa jelas dilarang. Terutama orangutan, ada ancaman penjara maksimal lima tahun dan denda Rp 100 juta.
Qatar memang menawarkan tiga alternatif, yakni membeli dengan harga berapapun yang diminta Indonesia, barter, atau hibah. Surat pemerintah Qatar itu disampaikan Duta Besar Indonesia di Doha, Qatar Rozy Munir kepada Wapres Jusuf Kalla. Surat itu diteruskan ke Menteri Kehutanan M.S. Ka'ban.
Kalaupun akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengizinkan, kata Erwin, departemen kehutanan harus mengirim tim ke Qatar untuk melakukan analisa tempat tinggal komodo dan orangutan di sana.
Erwin lebih sepakat kalau pemerintah melakukan pertukaran satwa. Ini pernah terjadi, yakni satwa Indonesia Owa Jawa ditukar dengan Gorilla dari Inggris. "Tapi tingkat kelangkaannya harus sebanding. Jangan ada kepentingan bisnis dibaliknya," jelas alumni Universitas Gadjah Mada itu.
Komodo dan Orangutan, menurut Erwin, kondisinya sudah rawan. Terutama orangutan yang dinilai sudah kehilangan habitatnya karena kerusakan hutan.(tom)
01 Juni 2008
PPS Gadog Ditutup - Buntut Perseteruan Dephut - GF
Sumber: Tabloid Agro Indonesia - Vol. IV No. 194 / April 2008
Perseteruan antara Departemen Kehutanan (Dephut) dengan The Gibbon Foundation (GF) yang berujung putusnya kerjasama di tengah jalan pada April 2006 ini memaksa satu dari tujuh Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) yang berada di Indonesia itu tutup.
Perseteruan antara Departemen Kehutanan (Dephut) dengan The Gibbon Foundation (GF) yang berujung putusnya kerjasama di tengah jalan pada April 2006 ini memaksa satu dari tujuh Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) yang berada di Indonesia itu tutup.
Terhitung 1 Maret 2008, kami terpaksa menghentikan operasional PPS Gadog. Bagi yang mengerti konservasi, langkah yang kami ambil ini sudah tepat," ujar Koordinator Pengelola Satwa PPS Gadog, Erwin Wilianto sewaktu dihubungi Agro Indonesia pekan lalu.
PPS Gadog memang kadung patah arang terkait dengan beratnya tanggungan. Padahal menurut Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Dephut, Tonny Rakhmat Soehartono, pemerintah merniliki dana total sebanyak Rp 1,8 miliar unfuk PPS di seluruh Indonesia. Hingga Agustus 2007 yang baru terserap sekitar Rp 500juta.
Erwin pun tak menyangkal adanya dana itu. Hanya saja, kurang. "Dana yang kami terima dari Dephut tidak mampu menutup seluruh keperluan operasional PPS Gadog. Pengeluaran PPS Gadog rata-rata mencapai Rp 20 juta perbulan. Namun Dephut hanya mencukupi 60% saja atau Rp 12 - 15 juta perbulan. Kekurangannya yang 40% itu kami upayakan lewat donasi dan adopsi satwa. Itu pun paling menutup maksimal 10 hingga 15%," beber Erwin.
Apalagi, lanjutnya, anggaran yang diajukan pihaknya pada Dephut untuk Januari hingga Juni 2007, baru cair November 2007 kemudian. Maklum, mekanisme birokrasi butuh prosedur baku yang makan waktu.
Sedangkan urusan satwa yang menjadi penghuni PPS Gadog yang terdapat di Desa Sukakarya, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor ini akan dialokasikan secara bertahap. Hingga Januari 2008 disana tercatat 42 ekor satwa hasil sitaan yang terdiri dari 13 spesies.
"Sebagian satwa di PPS Gadog sudah dialihkan ke lembaga konservasi lain seperti PPS Cikananga ; Sukabumi, Kebun Binatang Ragunan; Jakarta dan Iniasiasi Alam Rehabilitasi; Bogor," kata Kepala Baiai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Tubagus Unu Nitibaskara.
Wakil Koordinator sekaligus saiah satu pendiri PPS Cikananga, Resit Sozer membenarkan keterangan itu. Pihaknya pada Februari lalu menerima beberapa satwa limpahan dari PPS Gadog. Total 8 ekor yang terdiri dari 3 siamang, 2 beruang madu, 2 lutung dan 1 kakatua jambul kuning. "Kami terima saja karena keberadaan PPS Cikananga sesuai peruntukannya. Masalah dana operasional yang akan bertambah, biarlah kami yang mengusahakannya," tukas Resit.
Maklum, manajemen PPS Cikananga yang terdapat di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi ini pun pernah mengeluh soal beban biaya yang harus ditanggungnya. Pasalnya, biaya itu menjadi tanggung jawab Dephut pasca berakhirnya hubungan dengan GF.
Ketika Dirjen PHKA, Dephut mengeluarkan surat No. S 417/1V-KKH/2006 tanggal 19 April 2006, berakhirlah era kerjasama Dephut dengan GF. Talak tiga hubungan itu sebelumnya memang sudah didesak-desak GF melalui suratnya No. 001/TGF/5H/2006 tanggal 1 Maret 2006.
Bahkan pada 7 April 2006 lewat surat No. 004/TGF/IV/2006, GF kembali menuntut Dephut untuk putus secepatnya. Surat itu juga disertai nada tekanan bahwa jika dalam waktu dua minggu belum ditanggapi, rnaka PHKA dianggap setuju dengan pemutusan hubungan kerjasama tersebut.
Dephut sendiri nampaknya memang sudah enggan bemitra dengan GF, yang dijalin sejak 8 Agustus 2002. Dephut merasa tidak nyaman dengan berbagai komentar GF yang melampaui batas ruang lingkup kerjasama. Ibarat suami-istri, sudah tak ada komunikasi dan hubungan yang harmonis. Bahkan, timbul saling tidak percaya dan satu sama lain tidak menghargai.
Padahal dari-hubungan itu sudah melahirkan tujuh PPS. Ke tujuh PPS itu adalah Tegal Alur (DKI Jakarta), Gadog (Bogor) dan PPS Cikananga (Sukabumi), Yogyakarta dan Petung Sewu (JawaTimur), Bali dan Tasekoki (Sulawesi Utara). Kecuali Tegal Alur yang milik pemerintah, seluruh asetnya kepunyaan GF dan tanah milik perorangan.
PPS memang menjadi keharusan bagi negara-negara yang sudah menandatangani resolusi Convention on International Trade in Endangered Species (CITES). Dalanm resolusi CITES setiap negara anggota diminta agar memiliki fasilitas PPS guna menyelamatkan satwa-satwa liar sitaan, terlantar atau hasil penyerahan dari masyarakat.
Sesuai fungsinya, PPS seperti rumah sakit buat para satwa liar yang dilindungi. PPS ini merupakan penampungan satwa-satwa yang disita dari masyarakat untuk dirawat dan direhabilitasi. (Fenny)
28 Mei 2008
Burung Kakatua, jangan Hinggap di Jendela lagi
Dikutip dari : Indonesian Nature Conservation newsLetter 11-22b
Burung , 27 Mei 2008
Burung kakatua
Hinggap di jendela
Nenek sudah tua
Giginya tinggal dua
Lagu ini di Indonesia begitu melegenda. Hampir tak ada manusia dewasa maupun anak kecil yang tidak tahu lagu tersebut. Dengan lagu itu sesungguhnya kita sudah diperkenalkan dengan salah satu keragaman hayati negara kita, burung kakatua.
Burung kakatua merupakan bagian dari kelompok burung – yang kalau secara umum di dunia menyebutnya – parrot, yang juga dikenal sebagai kelompok burung dalam family (suku) Psittacidae. Jika di-indonesia-kan secara ilmiah, istilah parrot disepakati terjemahannya menjadi burung paruh bengkok. Agak aneh kedengarannya, wong hampir semua burung paruhnya juga bengkok. Tapi kelompok parrot ini memang betul-betul bengkok paruhnya, asli! Tapi tidak apa-apa, daripada lebih kacau balau nantinya lagi.
Indonesia merupakan salah satu gudangnya burung paruh bengkok di dunia. Tercatat ada 77 jenis yang berkeliaran di nusantara. Kakatua sendiri merupakan bagian dari family Psittacidae ini, yaitu dalam subfamily Cacatuinae. Suku Psittacidae sebenarnya juga melingkupi jenis lain, seperti jenis-jenis nuri, betet, dan saudara-saudaranya. Namun kadang-kadang sebagian kita (dan juga kamus) menyamaratakan penyebutannya sebagai kakatua. Jadi, sebenarnya seperti apa yang disebut kakatua ini?
Kakatua termasuk jenis burung paruh bengkok yang paling aktraktif dan mudah dibedakan secara visual. Secara kasat mata, burung kakatua umumnya berbadan relatif besar, paruh bengkok-nya terlihat besar, kuat, dan kokoh, serta ciri khas adanya jambul yang dapat tegak berdiri pada saat-saat tertentu, seperti waktu marah atau waspada. Tidak bakal salah, jambul inilah ciri dan daya tarik mereka yang paling utama.
Penyebaran burung kakatua aslinya hanya beredar di daerah-daerah pasific, khususnya Kepulauan Indonesia, Pulau Papua, Benua Australia, dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Dari 18 jenis kakatua yang umum dikenal di dunia, Indonesia sendiri terdapat tujuh jenis, dan… tiga jenis di antaranya merupakan jenis endemik (hanya hidup alami) di Indonesia. Kawasan Wallacea, yaitu daerah sekitar Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara merupakan basis kehidupan sebagian besar para kakatua ini di Indonesia.
Kita mengenal kakatua raja (Probosciger aterrimus) dari kawasan Papua sana. Hitam, besar, dengan jambul jigrak. Dari kawasan papua sana juga, sebetulnya dapat kita jumpai kakatua kecil (Cacatua pastinator) di Papua bagian Selatan, dan kakatua-besar jambul-kuning (Cacatua galerita) yang tersebar luas tidak hanya hampir di seluruh papua, tapi juga di sepanjang sisi Utara dan Timur Australia. Jelas, disebut kakatua-besar jambul-kuning, karena postur tubuhnya yang cukup besar (dapat mencapai panjang setengah meter) dengan jambulnya yang panjang mentereng berwarna kuning menyala. Indah sekali, apalagi jika kita melihatnya di alam langsung.
Tiga jenis endemik kakatua, semuanya menetap di kawasan Wallacea. Kawasan Wallacea merupakan kawasan peralihan antara penyebaran fauna kawasan kontinen Asia (Oriental) di bagian Barat Laut Indonesia dan kontinen Australia (Australasia) di bagian Tenggara. Inilah ide terpenting dalam ilmu pengetahuan, yang diwariskan oleh naturalis asal Inggris Alfred Russel Wallace, yang pernah malang melintang mengunjungi kawasan ini abad 19 lalu (namanya diabadikan untuk menunjuk kawasan ini). Tak heran, kakatua yang lebih banyak tersebar di Australia, Papua, dan sekitarnya, juga gentayangan sampai ke kawasan peralihan ini.
Kakatua endemik Indonesia semuanya hidup alami di Kepulauan Maluku. Di bagian paling Utara, hiduplah kakatua putih (Cacatua alba) yang memang putih bersih, hanya paruhnya saja yang hitam. Kakatua ini tersebar di Pulau Halmahera, Bacan, Obi, dan sekitarnya. Mundur lagi ke Selatan, di Pulau Seram dan sekitarnya, berkeliaran jenis kakatua maluku (Cacatua moluccensis). Jenis ini sedikit lebih cantik dari sepupunya di Utara sana. Bentuk dan ukurannya serupa, namun warna jambulnya merah segar. Kepala sampai badannya pun terlihat rona-rona merah bercampur putih yang cantik.
Saudara kecilnya yang endemik satu lagi, hidup di Kepulauan Tanimbar, kepulauan paling selatan di Maluku. Di kepulauan ini terdapat jenis kakatua tanimbar (Cacatua goffini). Ukuran tubuhnya kecil, seperti saudara tuanya yang ada di tanah papua, Cacatua pastinator. Kemiripan mereka menyebabkan ada beberapa ahli yang masih menyatakan bahwa jenis endemik Cacatua goffini ini sebenarnya merupakan bentuk super species dari jenis di Papua dan Australia tersebut. Namun lebih banyak yang menyatakan jenis ini sudah merupakan jenis tersendiri.
Kakatua tanimbar tersebar di Pulau Yamdena, Larat, Selaru, Sera, dan sekitarnya, dalam kesatuan Kep. Tanimbar. Selain bertubuh kecil (sekitar 30-an cm), jambulnya pun pendek. Warna dasar bulu dan paruhnya putih, namun ada bercak merah di depan mata mereka. Warna merah juga kadang terlihat di dasar bulu-bulu muka dan jambul mereka.
Satu jenis lagi adalah kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea). Sesuai namanya, warna sulfur dicirikan pada jambulnya yang panjang berwarna kuning sulfur. Bahkan sub speciesnya yang ada di Pulau Sumba, warna jambulnya sudah berbeda menjadi oranye. Jenis ini paling tersebar luar di Indonesia. Habitat utamanya adalah di kawasan Wallacea (bahkan sampai ke Pulau Nusa Penida dan Kep. Masalembo). Namun akibat banyak orang yang memperdagangkan dan memeliharanya, jenis ini ada yang terintroduksi ke alam di luar habitat aslinya. Selain itu, berpisahnya Timor Timur dari Indonesia, menyebabkan jenis ini sekarang milik alami dua negara.
Di alam aslinya, kakatua hidup di dalam hutan namun sering juga singgah di perkebunan masyarakat sekitar hutan. Makanan mereka berupa buah-buahan, bebijian, dan kadangkala memburu serangga juga. Mereka umumnya hidup berpasangan namun beberapa pasang dapat berkumpul sekaligus dalam jumlah besar (dapat mencapai ratusan). Acara kumpul-kumpul ini biasanya terjadi jika mereka menemukan sumber makanan dalam jumlah yang berlimpah.
Saat pagi hari mereka sudah keliaran mencari sumber makanan. Sambil terbang, biasanya mereka berteriak keras, sehingga keberadaannya mudah untuk diketahui. Jika tidak makan di hutan, mereka seringkali mencoba menyambangi daerah-daerah pertanian. Tak heran, banyak dari masyarakat desa sekitar hutan menggolongkan mereka sebagai salah satu hama pertanian potensial. Tanaman pertanian yang sering mereka serbu adalah jagung. Namun di luar musim jagung, pisang, pepaya, bahkan singkong pun yang di dalam tanah mereka embat juga. Lapar apa doyan?
Mereka umumnya tidur di pohon-pohon besar. Mereka berkembangbiak dengan membuat sarang di lubang-lubang pohon besar. Musim berbiak tampaknya beragam, tergantung kondisi lingkungan, yaitu biasanya saat jumlah makanan cukup berlimpah. Umumnya mereka bertelur dua sampai tiga butir per pasang per musim dan mereka erami selama sekitar tiga minggu.
Lalu, apa yang terjadi dengan kakatua-kakatua kita saat ini? Sebagian besar dari mereka mengalami nasib yang sangat menyedihkan. Ancaman kelestarian mereka di alam memprihatinkan. Perburuan di alam untuk perdagangan serta menyempitan hutan-hutan habitat alami mereka, merupakan ancaman yang paling serius untuk semua jenis.
Kakatua-kecil jambul-kuning yang tampaknya cukup parah. Penyebarannya yang cukup luas, banyak yang tinggal kenangan. Di Sulawesi Utara dan Lombok, dikabarkan sudah punah, dan penurunan tajam di tempat-tempat lain. Jenis-jenis terutama yang memiliki penyebaran terbatas, nasibnya tak jauh beda. Jenis kakatua putih dan kakatua maluku juga sudah sangat susah dijumpai secara asli di habitat alaminya.
Nasib sedikit lebih baik menaungi jenis Cacatua gofini di forgotten islands, Kepulauan Tanimbar sana. Jenis ini masih cukup mudah ditemui di alam. Namun, jangan bersenang hati dulu. Disinyalir ribuan ekor tiap tahun, mereka jalan-jalan ke luar daerah sebagai bahan perdagangan maupun cindera mata. Sudah menjadi rahasia umum, mereka kerap menjadi oleh-oleh bagi para anggota penegak hukum sendiri yang pulang bertugas dari daerah ini. Cap sebagai hama pertanian menyebabkan nasib mereka makin terdesak di mata masyarakat.
Apa yang dapat kita lakukan? Jelas kita tidak menghendaki jenis-jenis ini harus punah tinggal kenangan di nusantara, seperti telah terjadi di beberapa tempat. Daftar jenis satwa yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 7 tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, telah memasukkan jenis-jenis Cacatua galerita, Cacatua sulphurea, Cacatua moluccensis, Cacatua goffini, dan Probosciger aterrimus di dalamnya. Kita pun dapat mendukung upaya pelestarian ini. Caranya jelas tidak membeli burung-burung cantik ini di manapun dia dijual dan di manapun kita berada. Ajaklah juga saudara, teman, atau orang yang tidak kita kenal sekalipun, untuk tidak ikut-ikutan memelihara burung kakatua.
Selayaknya kita harus membagi ruang dan kenyamanan lingkungan kita dengan makhluk hidup lain termasuk burung kakatua tersebut di muka bumi ini. Sekali-kali jangan merasa takjub atau kagum, kita tunjukkan di depan mata para penjual dan pemelihara burung ini. Sesungguhnya mereka bukanlah penyayang burung, tapi justru menyiksanya. Merenggut mereka dari kebebasan alaminya, yang akhirnya 99% mereka akan mati tersiksa tanpa meninggalkan keturunan. Bagaimanapun mereka selalu lebih indah, jika kita saksikan sendiri keliaran di alam aslinya. Jangan lagi mereka harus hinggap di jendela kita, tapi biarkan mereka hinggap di pohon, hutan alami mereka.
(Hanom Bashari/Burung Indonesia)
21 Februari 2008
HARIMAU NGAMUK, 3 SAPI DI TERKAM
Sumber: Rakyat Bengkulu, Rabu 20 Februari 2008
Seluma kembali menjadi bahan berita, kali ini bukan soal pembobolan APBD Rp. 9,1 M, tapi harimau yang kembali mengamuk dan masuk keperkampungan warga. Pukul 01.10 WIB dini hari kemarin, masuk ke desa talang kebun,
kecamatan Lubuk Sandi. Pada tengah malam itu, tiga ekor sapi milik kelompok tani SubanIndah berhasil diterkam dan mati ditempat.
Ketua kelompok tani, Arsan M (58), warga desa setempat meceritakan kronologis masuknya si raja hutan. Saat itu ia dan beberapa warga lainnya baru pulang dari mengobrol dirumah salah seorang warga. “Dijalan, kami melihat ada sapi. Padahal semua ternak sapi di desa ini dikandangkan, Ungkapnya”.
Bersama beberapa warga, arsan kemudian mengecek kembali hewan ternak sapi di kandang yang berjarak sekitar 700 meter dari pemukiman penduduk. Ternyata, dari 19 ekor sapi di rumah tersebut, semuanya sudah keluar entah kemana. “semua sapi kabur dari kandangnya, karena terkejut dan ketakutan”, ungkap arsan lagi.
Ditemani beberapa warga lagi,arsan mekakukan pengecekan disekitar kandang yang luasnya sekitar 4 Ha. Dugaan Arsan dan teman-temannya tak meleset lagi. Ternyata kandang sapi tersebut sudah di datangi harima. Tiga sapi Bali yang berumur sekitar 1,5 tahun ditemukan sudah mati.
Satu ekor sapi ditemukan sekitar 50 meter dari kandang. Sedangkan dua ekor lagi, berjarak berkisar 150 meter dari kandang. “Kondisi yang satu ekor yang berjarak sekitar 50 meter masih terlihat utuh. Tetapi, tulang tengkuk remuk dengan bekas gigitan harimau. Tampaknya yang satu ini setelah di terkam hanya dihisap darahnya saja. “beber Arsan”.
Tetapi kondisi dua ekor sapi lainnya badannya sudah tercabik-cabik. Dua paha kaki belakang kedua sapi tersebut habis. Bahkan isi perut dua sapi itu sudah terlihat, kata Arsan lagi.
Bauti (56), mantan kepala desa setempat, mengaku tak tahu mengapa harimau masuk ke desa mereka dan menerkam tiga ekor sapi. “Ini kejadian pertama kali di desa ini. Biasanya nenek (harimau) di desa ini hanya menumpang lewat saja. Kalau injaknya (jejaknya) nenek tersebut sudah sering terlihat. Juga di sekitar kandang sapi. “kata Bauti.
Harimau yang bias lewat di desa Talang Kebun, harimau yang jari kakinya empat. Kalau yang menerkam sapi ini, jarinya lima. Bauti memperkirakan ukuran harimau tersebut besar. Ini terlihat dari jejak kakinya. Bekas kakinya lebih kurang sebesar piring. Kalau melihat sapi yang menjadi korban,harimaunya lebih dari satu ekor, “tambahnya.
Hingga saat ini bangkai sapi tersebut tidak diganggu warga. Saat Koran ini mengajak mengambil foto di tempat kejadian, karena sudah malam dan gerimis, warga menyarankan untuk tidak melihat sapi tersebut. Karena kemungkinan besar, mala mini bangkai sapi itu diulangi lagi oleh nenek (harimau), ujar Bauti lagi.
Sebenarnya , kelompoktani Suban Indah memiliki du kandang ternak sapi bantuan dinas Pertanian dan perkebunan Kabupaten Seluma. Satu kandang lagi , tidak diganggu sama sekali oleh harimau Sumatera tersebut.
Kandang ternak sapi yang didatangi oleh harimau itu, semuanya dipindahkan kekandang yang tak diganggu oleh hewan tersebu. Pantauan Koran ini, memang terlihat kandang sapi yang sudah kosong.
Sementara itu setelah kejadian ini, warga setempat diliputi oleh rasa cemas, dikhawatirkan harimau tersebut kembali masuk desa. Kalangan pria tadi malam berkumpul di beberapa tempat kalaupun ada yang ingin keluar rumah harus berombongan. Kejadian ini sudah di Laporkan ke Dinas Pertanian dan Perkebunan.